|
Selasa, 01 November 2011
Saran Dalam Penggemukan Domba
Penggemukkan Domba Dengan “Tawakkal”
Usaha penggemukan domba milik H Bunyamin selalu diminati konsumen. Kuncinya, domba harus berpenampilan sehat dan bersih.
Desa Cimande, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kini tidak saja dikenal sebagai tempat dukun patah tulang dan perguruan silat, tapi juga sentra peternakan domba. Predikat sebagai daerah peternakan domba itu muncul setelah Haji Bunyamin mendirikan “Tawakkal Farm”, sebuah usaha penggemukan domba sejak 1993. |
Begitu memasuki mulut desa
Cimande, setiap pengunjung atau tamu dengan mudah mencari sang
peternak, karena nama Haji Bunyamin sudah begitu dikenal oleh tukang
ojek yang mangkal di sana. Peternakan yang dirintis oleh Haji Bunyamin
mulai dari usaha kecil-jecilan itu, kini telah berkembang cukup pesat.
Di sana sekarang terdapat 1.200 ekor domba, yang ditempatkan dalam lima
kandang kayu. Semua kandang terawat bersih, bahkan tidak tercium bau
domba.
|
Bunyamin biasa
menerima para tamu di sebuah kamar sekaligus tempatnya bekerja, yang
berada persis di depan kandang domba. Para tamu yang berkunjung ke sana
datang dari berbagai kalangan. Mahasiswa jurusan peternakan
Universitas Padjajaran dan Institut Pertanian Bogor (IPB) misalnya,
sering kali menjadikan peternakan Bunyamin ini sebagai tempat magang.
Begitu pula para karyawan yang memasuki masa pensiun, seperti karyawan
Bank Indonesia dan BRI, sengaja datang untuk mempelajari cara beternak
domba sebagai persiapan usaha bila masa pensiun tiba.
“Tapi saya
sendiri tidak punya ilmunya. Saya hanya tukang angon,“ kata Bunyamin
merendah. Domba-domba hasil penggemukan Bunyamin memang sudah dikenal,
bukan saja di Bogor tapi hingga ke wilayah Tangerang dan Jakarta.
Biasanya domba-domba itu masuk ke restoran untuk sop atau sate, dan
juga untuk kurban pada hari raya Idul Adha.
Untuk restoran di
kawasan Ciawi hingga Puncak saja, terdapat 32 rumah makan yang
menyediakan sop dan sate kambing. Menurut survei yang dilakukan Haji
Kadir, seorang pemilik rumah makan khusus menyediakan sop dan sate di
Cisarua, untuk kebutuhan seluruh rumah makan di kawasan itu dibutuhkan
560 ekor domba setiap hari atau 560 ekor dalam seminggu. Rumah makan
milik Haji Kadir saja membutuhkan delapan ekor domba per hari, dan
kalau malam minggu bisa sampai 14 ekor.
“Untuk memebuhi
kebutuhan rumah makan dari pasar Ciawi sampai Puncak saja saya tidak
sanggup. Kesanggupan saya paling hanya dua hari dalam seminggu,”aku
Bunyamin. Harga per kilo domba Rp 17.500. Namun, memasuki bulan haji
bisa melonjak sampai Rp 25 ribu per kilo. Di tingkat peternak, domba
memang dihitung kiloan.
Meski sudah 14 tahun menggeluti
usaha penggemukan domba, Bunyamin merasa masih belum pantas disebut
sebagai peternak domba yang sukses. Baginya, peternak yang sukses salah
satu persayaratannya harus sudah punya lahan sendiri, tempat menanam
rumput sebagai makanan utama domba.
Untuk saat ini guna memenuhi kebutuhan pakan domba-dombanya, Bunyamin masih harus mencari rumput ke kawasan lain di sekitar Cimande. Tapi, saat musim kemarau lokasi tempat pengambilan rumput semakin jauh, sehingga harus menambah beban transportasi. Setidaknya, dalam sehari, 120 karung rumput harus disediakan untuk semua dombanya, yang diberi makan sebanyak dua kali, pagi dan sore.
Tidak heran bila domba-domba milik Bunyamin tampak sehat. Bulu-bulu dombanya tidak dibiarkan tumbuh tak terawat. Ketika domba dari warga yang dibelinya masuk ke peternakan, harus dicukur biar bersih. Kukunya dipotong secara berkala. Obat cacing juga rutin diberikan untuk membersihkan isi perutnya. Sebab, menurut pensiunan pegawai negeri sipil di Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor ini, hampir semua kambing yang dipelihara warga pasti terkena penyakit cacing.
Domba yang sehat dan terawat adalah daya tarik tersendiri bagi konsumen. “Mereka akan merasa puas dengan domba seperti ini, “ kata lelaki kelahiran Cianjur, Jawa Barat, 2 Mei 1956 ini. Apalagi bila melihat domba Garut atau sering disebut domba tangkas yang khusus untuk domba adu. Harga bibitnya saja bisa mencapai Rp 3 juta. Di peternakan milik Bunyamin, harga domba Garut ditentukan oleh “tongkrongannya”. Artinya, kalau penampilannya bagus dan bersih harga seekor domba Garut bisa mencapai Rp 15 juta.
Keberhasilan Bunyamin menggeluti usaha penggemukan domba, bermula dari hobi memelihara domba. Ketika itu pada 1990, Bunyamin memelihara enam ekor domba di belakang rumahnya. Ketika lebaran haji tiba, dia memotong tiga ekor dan menjual tiga ekor lainnya. Rupanya, penjualan tiga ekor ini memberi keuntungan lumayan, sehingga terpikir olehnya untuk meneruskan usaha jual beli domba.
Akhirnya, pada 1993, Bunyamin mendirikan Tawakkal Farm. Untuk tempat pemeliharaannya Bunyamin membeli lahan secara mencicil, tak jauh dari rumahnya yang kini dijadikan kandang sekaligus tempat tinggal 20 orang karyawannya.
Namun di tengah keberhasilan itu, Bunyamin sebenarnya memiliki trauma dalam usaha peternakan. Kisahnya terjadi antara tahun 1982 hingga1987, ayah seorang putera membuka usaha ayam potong. Jumlah ayam potongnya saat itu mencapai 110 ribu ekor. Hingga 1985 usahanya itu terbilang sukses, sehingga Bunyamin berhasil membeli dua truk dan sebuah kendaraan pick-up untuk keperluan angkutan ternak dan lainnya.
Tapi, tatkala memasuki 1986, harga pakan ayam mulai naik, sementara harga jual ayam potong di pasar setiap kali panen justeru anjlok. Akibatnya, biaya produksi tidak tertutupi oleh penghasilan. Pada saat yang sama dia juga harus bersaing dengan pengusaha ayam potong kelas konglomerat yang memiliki peralatan dan modal kuat. “Akhirnya saya bangkrut,” cerita Bunyamin mengenai masa lalunya itu. Dua buah truk dan seluruh angkutan, serta semua peralatan peternakan ludes dijual.Bunyamin menyebut kejatuhan atau kebangkrutan itu dengan sebutan “dipatok ayam”.
Masih beruntung saat itu Bunyamin tidak punya utang. Sementara ada kawan-kawannya sesama peternak ayam potong lebih tragis lagi. Menurut cerita Bunyamin, ada peternak ayam potong mati mendadak karena kaget, dan ada pula yang harus menjual rumah tinggalnya, dan pindah ke gubuk yang sebelumnya digunakan untuk beternak ayam.
Pengalaman menyakitkan itu membuat Bunyamin makin awas dalam memilih jenis ternak untuk usaha. Dia pun kemudian memilih usaha penggemukan domba. Karena, dia yakin, domba akan memberinya keberuntungan. “Sebab harganya stabil,” katanya optimistis. Mudah-mudahan.
http://tanimerdeka.com
Untuk saat ini guna memenuhi kebutuhan pakan domba-dombanya, Bunyamin masih harus mencari rumput ke kawasan lain di sekitar Cimande. Tapi, saat musim kemarau lokasi tempat pengambilan rumput semakin jauh, sehingga harus menambah beban transportasi. Setidaknya, dalam sehari, 120 karung rumput harus disediakan untuk semua dombanya, yang diberi makan sebanyak dua kali, pagi dan sore.
Tidak heran bila domba-domba milik Bunyamin tampak sehat. Bulu-bulu dombanya tidak dibiarkan tumbuh tak terawat. Ketika domba dari warga yang dibelinya masuk ke peternakan, harus dicukur biar bersih. Kukunya dipotong secara berkala. Obat cacing juga rutin diberikan untuk membersihkan isi perutnya. Sebab, menurut pensiunan pegawai negeri sipil di Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor ini, hampir semua kambing yang dipelihara warga pasti terkena penyakit cacing.
Domba yang sehat dan terawat adalah daya tarik tersendiri bagi konsumen. “Mereka akan merasa puas dengan domba seperti ini, “ kata lelaki kelahiran Cianjur, Jawa Barat, 2 Mei 1956 ini. Apalagi bila melihat domba Garut atau sering disebut domba tangkas yang khusus untuk domba adu. Harga bibitnya saja bisa mencapai Rp 3 juta. Di peternakan milik Bunyamin, harga domba Garut ditentukan oleh “tongkrongannya”. Artinya, kalau penampilannya bagus dan bersih harga seekor domba Garut bisa mencapai Rp 15 juta.
Keberhasilan Bunyamin menggeluti usaha penggemukan domba, bermula dari hobi memelihara domba. Ketika itu pada 1990, Bunyamin memelihara enam ekor domba di belakang rumahnya. Ketika lebaran haji tiba, dia memotong tiga ekor dan menjual tiga ekor lainnya. Rupanya, penjualan tiga ekor ini memberi keuntungan lumayan, sehingga terpikir olehnya untuk meneruskan usaha jual beli domba.
Akhirnya, pada 1993, Bunyamin mendirikan Tawakkal Farm. Untuk tempat pemeliharaannya Bunyamin membeli lahan secara mencicil, tak jauh dari rumahnya yang kini dijadikan kandang sekaligus tempat tinggal 20 orang karyawannya.
Namun di tengah keberhasilan itu, Bunyamin sebenarnya memiliki trauma dalam usaha peternakan. Kisahnya terjadi antara tahun 1982 hingga1987, ayah seorang putera membuka usaha ayam potong. Jumlah ayam potongnya saat itu mencapai 110 ribu ekor. Hingga 1985 usahanya itu terbilang sukses, sehingga Bunyamin berhasil membeli dua truk dan sebuah kendaraan pick-up untuk keperluan angkutan ternak dan lainnya.
Tapi, tatkala memasuki 1986, harga pakan ayam mulai naik, sementara harga jual ayam potong di pasar setiap kali panen justeru anjlok. Akibatnya, biaya produksi tidak tertutupi oleh penghasilan. Pada saat yang sama dia juga harus bersaing dengan pengusaha ayam potong kelas konglomerat yang memiliki peralatan dan modal kuat. “Akhirnya saya bangkrut,” cerita Bunyamin mengenai masa lalunya itu. Dua buah truk dan seluruh angkutan, serta semua peralatan peternakan ludes dijual.Bunyamin menyebut kejatuhan atau kebangkrutan itu dengan sebutan “dipatok ayam”.
Masih beruntung saat itu Bunyamin tidak punya utang. Sementara ada kawan-kawannya sesama peternak ayam potong lebih tragis lagi. Menurut cerita Bunyamin, ada peternak ayam potong mati mendadak karena kaget, dan ada pula yang harus menjual rumah tinggalnya, dan pindah ke gubuk yang sebelumnya digunakan untuk beternak ayam.
Pengalaman menyakitkan itu membuat Bunyamin makin awas dalam memilih jenis ternak untuk usaha. Dia pun kemudian memilih usaha penggemukan domba. Karena, dia yakin, domba akan memberinya keberuntungan. “Sebab harganya stabil,” katanya optimistis. Mudah-mudahan.
http://tanimerdeka.com
Tehnik Penggemukan Domba
Usaha budidaya ternak ruminansia (kambing,domba, sapi) di Indonesia sangatlah menjanjikan karena memilki daya dukung Sumber Daya Alam yang melimpah serta memilki pangsa pasar yang sangat luas untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri ataupun pasar ekspor. Disamping itu ternak ruminansia memiliki posisi yang strategis sebagai hewan qurban bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.Dalam budidaya ternak Sapi, Kambing dan Domba perlu di perhatikan beberapa hal yang mendukung keberhasilan untuk mendapatkan keuntungan yang masimal.Diantaranya adalah efisensi biaya pakan dan perawatan.Penggemukan dengan system intensif (kereman) akan memudahkan dalam perawatan dan menekan jumlah tenaga kerja, sedangkan penggunaan complete feed sebagai makanan harian akan mengefisienkan tenaga, biaya dan pertambahan berat badan harian jika dibandingkan dengan menggunakan rumput segar atau cara tradisional.
BIBIT KAMBING/DOMBA
Bibit domba/kambing harus sehat dan tidak cacat penampilan fisiknya harus baik, bulunya harus tampak seperti basah, kakinya tegak dan besar, mata cerah dan moncongnya tumpul. Sebaiknya dipilih domba/kambing jantan untuk digemukkan karena pertumbuhannya lebih cepat dari pada yang betina. Domba/kambing jantan itu harus dipilih yang baru lepas sapih (berumur 6-8 Bulan), giginya masih rapat dan belum tanggal, dan berat rata-ratanya 18-20 kg. Misalnya yang umurnya 12 bulan atau sedang tanggal gigi, biasanya mengaIami masa stress dan bobotnya juga turun, sehingga menggangu proses penggemukan. Bibit domba jantan ini juga dipilih yang tidak bertanduk dan sifatnya tenang, karena domba yang bertanduk mempunyai naluri berkelahi yang tinggi dan pertumbuhannya cenderung lebih lambat. Pada akhir masa penggemukan, berat domba bertanduk bisa berbeda 1-2 kg lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak bertanduk: Kerugian lain, domba bertanduk sering merusak kandang. Domba /kambing yang akan digemukkan ukurannya besar atau kecil tidak jadi masalah, yang penting harganya murah Pertimbangannya kalau dijual akan lebih menguntungkan. Jenis domba yang potensial digemukkan adalah domba ekor gemuk dan ekor tipis sedangkan jenis kambing yang potensial adalah kambing katjang dan PE.
Bibit domba/kambing harus sehat dan tidak cacat penampilan fisiknya harus baik, bulunya harus tampak seperti basah, kakinya tegak dan besar, mata cerah dan moncongnya tumpul. Sebaiknya dipilih domba/kambing jantan untuk digemukkan karena pertumbuhannya lebih cepat dari pada yang betina. Domba/kambing jantan itu harus dipilih yang baru lepas sapih (berumur 6-8 Bulan), giginya masih rapat dan belum tanggal, dan berat rata-ratanya 18-20 kg. Misalnya yang umurnya 12 bulan atau sedang tanggal gigi, biasanya mengaIami masa stress dan bobotnya juga turun, sehingga menggangu proses penggemukan. Bibit domba jantan ini juga dipilih yang tidak bertanduk dan sifatnya tenang, karena domba yang bertanduk mempunyai naluri berkelahi yang tinggi dan pertumbuhannya cenderung lebih lambat. Pada akhir masa penggemukan, berat domba bertanduk bisa berbeda 1-2 kg lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak bertanduk: Kerugian lain, domba bertanduk sering merusak kandang. Domba /kambing yang akan digemukkan ukurannya besar atau kecil tidak jadi masalah, yang penting harganya murah Pertimbangannya kalau dijual akan lebih menguntungkan. Jenis domba yang potensial digemukkan adalah domba ekor gemuk dan ekor tipis sedangkan jenis kambing yang potensial adalah kambing katjang dan PE.
PENANGANAN PRA PENGGEMUKAN
Domba/Kambing harus juga dijaga dan dirawat kesehatannya sejak awal. Lingkungannyapun dihindarkan agar tidak sampai menimbulkan stress. Untuk itu pengobatan pencegahan perlu dilakukan ketika bibit baru datang, sebelum dimasukkan kedalam kandang. Biasanya dengan pengobatan sekali itu, bibit domba /kambing yang akan digemukkan tidak terkena penyakit ataupun stress sampai masa penggemukan berakhir. Domba yang baru datang harus langsung dicukur bulunya, Agar bibit penyakit, kutu, dan parasit. lain bisa segera terbasmi. Dengan pencukuran ini, hasil dari penggemukanpun langsung terlihat mahal, bila setiap periode penggemukan hasil bulu cukurannya banyak, bisa dijual untuk menambah penghasilan. Setelah dicukur, domba langsung dimandikan sampai bersih dari semua kotoran yang melekat hilang. Untuk mencegah penyakit, domba disuntik antibiotik dan obat cacing. Terakhir, untuk mencegah stress, bibit domba itu diberi obat anti stress ataupun multivitamin.
MANAGEMENT KANDANG
Kandang sistem baterei yang dipergunakan untuk penggemukan ini diisi seekor domba perkandang. Panjang kandang dibuat 1m, lebar 60 cm, tinggi kandang dari tanah 80 cm atau 1mx1m diisi 2 ekor domba/kambing. Satu lokasi ( satu atap) terdiri dari 2 baris kandang yang tidak saling berhadapan tiap barisnya. Agar domba mau makan lebih bernafsu, setiap wadah pakan sebaiknya digunakan untuk 2 domba. Wadah pakan itu diletakan disisi luar dan tidak saling berhadapan dengan barisan kandang lainnya. Wadah pakan itu bisa dibuat dari bambu atau bahan lain yang mudah didapat serta harganya murah. Atapnya dibuat dari alang-alang,rumbia yang telah tua atau genteng, dibuat berkemiringan 45°. Dengan atap rumbia/genteng, pada siang hari kandang tidak terlalu panas dan pada malam harinya menjadi hangat. Kalau menggunakan atap seng, domba sering stress, karena siangnya terlalu panas dan malamnya terlalu dingin.
MANAGEMENT PAKAN
Domba/Kambing harus juga dijaga dan dirawat kesehatannya sejak awal. Lingkungannyapun dihindarkan agar tidak sampai menimbulkan stress. Untuk itu pengobatan pencegahan perlu dilakukan ketika bibit baru datang, sebelum dimasukkan kedalam kandang. Biasanya dengan pengobatan sekali itu, bibit domba /kambing yang akan digemukkan tidak terkena penyakit ataupun stress sampai masa penggemukan berakhir. Domba yang baru datang harus langsung dicukur bulunya, Agar bibit penyakit, kutu, dan parasit. lain bisa segera terbasmi. Dengan pencukuran ini, hasil dari penggemukanpun langsung terlihat mahal, bila setiap periode penggemukan hasil bulu cukurannya banyak, bisa dijual untuk menambah penghasilan. Setelah dicukur, domba langsung dimandikan sampai bersih dari semua kotoran yang melekat hilang. Untuk mencegah penyakit, domba disuntik antibiotik dan obat cacing. Terakhir, untuk mencegah stress, bibit domba itu diberi obat anti stress ataupun multivitamin.
MANAGEMENT KANDANG
Kandang sistem baterei yang dipergunakan untuk penggemukan ini diisi seekor domba perkandang. Panjang kandang dibuat 1m, lebar 60 cm, tinggi kandang dari tanah 80 cm atau 1mx1m diisi 2 ekor domba/kambing. Satu lokasi ( satu atap) terdiri dari 2 baris kandang yang tidak saling berhadapan tiap barisnya. Agar domba mau makan lebih bernafsu, setiap wadah pakan sebaiknya digunakan untuk 2 domba. Wadah pakan itu diletakan disisi luar dan tidak saling berhadapan dengan barisan kandang lainnya. Wadah pakan itu bisa dibuat dari bambu atau bahan lain yang mudah didapat serta harganya murah. Atapnya dibuat dari alang-alang,rumbia yang telah tua atau genteng, dibuat berkemiringan 45°. Dengan atap rumbia/genteng, pada siang hari kandang tidak terlalu panas dan pada malam harinya menjadi hangat. Kalau menggunakan atap seng, domba sering stress, karena siangnya terlalu panas dan malamnya terlalu dingin.
MANAGEMENT PAKAN
Pada tahap awal penggemukan atau penyesuaian, yaitu sejak domba /kambing masuk kandang setiap ekor domba/kambing per harinya diberi konsentrat 0,5 – 1kg comfed, dan ditambah hijaun secukupnya. Caranya pada pukul 05.00 comfeed diberi lebih dahulu kalau pemberian keduanya dicampurkan dengan rumput domba akan kurang meminatinya, karena ia lebih tertarik pada rumput. Rumput baru diberikan pada pukul 09.30 dan diulangi dalam jumlah yang sama pada pukul 15.00. Air diberikan setiap kali domba selesai diberi pakan rumput jumlahnya tak terbatas. Pada hari-hari pertama tahap penyesuaian ini (2-3 hari), domba belum begitu bernafsu memakannya, karena belum biasa. Akan tetapi, setelah lewat masa itu, jumlah pakan sebanyak itu akan dihabiskannya. Sejak minggu ke-2 dan minggu selanjutnya sampai masa penggemukkan berakhir, waktu dan jumlah pemberian pakannya sama per hari 1 kg. Teknisnya pagi hari 0,5kg Comfeed dengan tujuan bakteri pencernaan dalam rumen sudah mendapatkan asupan nutrisi untuk membantu proses pencernan dan penyerapan nutrisi pakan. Dan Sore 0,5kg, air minum los, bisa juga tambah rumput disiang harinya begitu seterusnya sampai panen.
MANAGEMENT KESEHATAN
1. Scabiosis/Kudis
Penyakit kudis atau scabies merupakan penyakit ektoparasit utama yang menyerang bagian kulit ternak ruminansia, terutama kambing dan kelinci bahkan dapat menular ke manusia.Penyebab penyakit scabies pada kambing adalah tungau Sarcoptes scabiei.Penularan uumumnya melalui kontak langsung atau tempat pakan dan minum yang tercemar.Pengobatan terhadap penyakit ini bisa mengunakan Wormectin atau Ivomec.
2. Anthrax
Penyakit anthrax atau radang limpa merupakan penyakit bacterial penting yang menyerang hampir semua hewan termasuk kambing dan domba serta dapat menular ke manusia.Agen penyebab penyakit ini bacillus anthracis. Ciri-ciri perakut atau akut tiba-tiba kambing/domba yang semula sehat tiba-tiba jatuh , kejang-kejang lal mati dan terjadi pendarahan diotak.pengobatan bisa dilakukan dengan pemberian antibiotika tetraciklin atau penicillin dosis tinggi 5 hari berturut-turut. Penanganan hewan yang mati akibat anthrax dengan membakar bangkainya, diberi disinfektan dan dikubur.
3. Pink Eye
Pink eye adalah penyakit mata akut yang menular dan ditandai dengan kemerahan pada selaput mata (konjungtiva) dan kekeruhan pada kornea.Meskipun jarang sekali menyebabkan kematian tetapi dapat mengakibatkan kerugian akibat penurunan berat badan yang drastis.Penagnan penyakit ini bisa menggunakan salep mata yang mengandung 1% chloramphenicol atau obat tetes mata.
4. Pnemonia
Merupakan radangparenkhim paru-paru yang biasanya disertai radang bronkeol dan selaput paru-paru.Umumnya penyakit ini menyerang pada saat pergantian musim kemarau ke musim penghujan, penyakit ditandai dengan keluarnya ingus dari hidung, batuk-batuk.Pncegahan dilakukan dengan jalan pewatan yang baik dan kandang tidak lembab.Pengobatan bis adigunakan antibiotika ampicilin dan tetraciklin.
5. Orf (mempreng/keropeng)
Merupakan penyakit viral utama yang menyerang ternak kambing dan dapat menular pada manusia.Agen penyakit ini dari golongan virus parapoks, penyakit ini bisa menyerang cepat pada ternak lain jika tidak segera ditangani.Pengobatan hanya ditujukan untuk mencegah infeksi sekunder dengan memberikan salep antibiotika seperti eritromosin dan oksitetrasiklin.
6. Myasis
Myasis atau belatungan adalah infeksi larva kedalam jaringan tubuh hewan hidup. Lalat Chrysomya bezziana adalah agen primer penyebab myasis, lalat ini berwarna hijau kebiruan yang akan menggigit dan menyebabkan luka-luka traumatic. Gigitan caplak cuga bisa menyebabkan myasis jika tidak segera ditangani.Pengobatan yang efektif dengan menyemprotkan Gosanex secara rutin dan salep antibiotika.
7. Parasitit Cacing(Nematodiasis)
Nematodiasis adalah penyakit parasit internal atau penyakit cacingan saluran pencernaan pada kambing dan domba yang disebabkan oleh cacing gilik.Pada kambing dan domba akan mengakibatkan penurunan absorbs sari-sari makanan protein, kalsium dan fosfor pada akhirnya pertambahan berat badan harian menjadi tidakmaksimal,Pengobatan bisa menggunakan obet dengan merk dagang Verm-o yang lainnya , bila diperlukan ditambah dengan antibiotika dan multivitamin (B12,Biosalamin,Injectamin dll)
8. Tympani/kembung
Diakbatkan oleh makanan atau keracunan sianida.Penanganan bisa dilakukan dengan pemberian Tympanol dan anti bloat lainnya.
MANAGEMENT KESEHATAN
1. Scabiosis/Kudis
Penyakit kudis atau scabies merupakan penyakit ektoparasit utama yang menyerang bagian kulit ternak ruminansia, terutama kambing dan kelinci bahkan dapat menular ke manusia.Penyebab penyakit scabies pada kambing adalah tungau Sarcoptes scabiei.Penularan uumumnya melalui kontak langsung atau tempat pakan dan minum yang tercemar.Pengobatan terhadap penyakit ini bisa mengunakan Wormectin atau Ivomec.
2. Anthrax
Penyakit anthrax atau radang limpa merupakan penyakit bacterial penting yang menyerang hampir semua hewan termasuk kambing dan domba serta dapat menular ke manusia.Agen penyebab penyakit ini bacillus anthracis. Ciri-ciri perakut atau akut tiba-tiba kambing/domba yang semula sehat tiba-tiba jatuh , kejang-kejang lal mati dan terjadi pendarahan diotak.pengobatan bisa dilakukan dengan pemberian antibiotika tetraciklin atau penicillin dosis tinggi 5 hari berturut-turut. Penanganan hewan yang mati akibat anthrax dengan membakar bangkainya, diberi disinfektan dan dikubur.
3. Pink Eye
Pink eye adalah penyakit mata akut yang menular dan ditandai dengan kemerahan pada selaput mata (konjungtiva) dan kekeruhan pada kornea.Meskipun jarang sekali menyebabkan kematian tetapi dapat mengakibatkan kerugian akibat penurunan berat badan yang drastis.Penagnan penyakit ini bisa menggunakan salep mata yang mengandung 1% chloramphenicol atau obat tetes mata.
4. Pnemonia
Merupakan radangparenkhim paru-paru yang biasanya disertai radang bronkeol dan selaput paru-paru.Umumnya penyakit ini menyerang pada saat pergantian musim kemarau ke musim penghujan, penyakit ditandai dengan keluarnya ingus dari hidung, batuk-batuk.Pncegahan dilakukan dengan jalan pewatan yang baik dan kandang tidak lembab.Pengobatan bis adigunakan antibiotika ampicilin dan tetraciklin.
5. Orf (mempreng/keropeng)
Merupakan penyakit viral utama yang menyerang ternak kambing dan dapat menular pada manusia.Agen penyakit ini dari golongan virus parapoks, penyakit ini bisa menyerang cepat pada ternak lain jika tidak segera ditangani.Pengobatan hanya ditujukan untuk mencegah infeksi sekunder dengan memberikan salep antibiotika seperti eritromosin dan oksitetrasiklin.
6. Myasis
Myasis atau belatungan adalah infeksi larva kedalam jaringan tubuh hewan hidup. Lalat Chrysomya bezziana adalah agen primer penyebab myasis, lalat ini berwarna hijau kebiruan yang akan menggigit dan menyebabkan luka-luka traumatic. Gigitan caplak cuga bisa menyebabkan myasis jika tidak segera ditangani.Pengobatan yang efektif dengan menyemprotkan Gosanex secara rutin dan salep antibiotika.
7. Parasitit Cacing(Nematodiasis)
Nematodiasis adalah penyakit parasit internal atau penyakit cacingan saluran pencernaan pada kambing dan domba yang disebabkan oleh cacing gilik.Pada kambing dan domba akan mengakibatkan penurunan absorbs sari-sari makanan protein, kalsium dan fosfor pada akhirnya pertambahan berat badan harian menjadi tidakmaksimal,Pengobatan bisa menggunakan obet dengan merk dagang Verm-o yang lainnya , bila diperlukan ditambah dengan antibiotika dan multivitamin (B12,Biosalamin,Injectamin dll)
8. Tympani/kembung
Diakbatkan oleh makanan atau keracunan sianida.Penanganan bisa dilakukan dengan pemberian Tympanol dan anti bloat lainnya.
Langganan:
Komentar (Atom)